Pilih bahasa yang di inginkan:- BAHASA MELAYU

Saturday, September 18, 2010

Raja Ali Haji - Sastrawan Kerajaan Riau Lingga

Raja Ali Haji (RAH) dilahirkan di Pulau Penyengat (sekarang masuk wilayah Kepulauan Riau, Indonesia) pada tahun 1808 dari ayah bernama Raja Ahmad (bergelar Engku Haji Tua) dan seorang ibu bernama Encik Hamidah binti Panglima Malik Selangor. Raja Ali Haji adalah cucu dari Raja Haji Fisabilillah Yang Dipertuan Muda Riau Ke-IV dari Kerajaan Riau-Lingga dan merupakan keturunan bangsawan Bugis. Raja Ali Haji memiliki beberapa saudara laki-laki dan perempuan dari ayah yang sama, yaitu Raja Haji Daud (sulung), Raja Endut alias Raja Umar, Raja Salehah, Raja Cik, Raja Aisyah, Raja Abdullah, Raja Ishak, Raja Muhammad, Raja Abu Bakar, dan Raja Siti (bungsu). Keluarga Raja Ahmad ini termasuk orang-orang yang gemar menulis. Sebagai sastrawan, Raja Ahmad pernah menghasilkan setidaknya tiga buah karya yaitu Syair Engku Putri, Syair Perang Johor dan Syair Raksi. Darah sastrawan yang ada pada diri Raja Ahmad tersebut tumbuh dan berkembang lebih besar pada diri Raja Ali Haji.

Sejak kanak-kanak, Raja Ali Haji mendapat pendidikan di lingkungan istana kerajaan Penyengat dari para ulama yang datang dari berbagai negeri untuk mengajarkan Islam. Untuk menambah wawasan, Raja Ali Haji seringkali mengikuti perjalanan ayahnya ke berbagai daerah untuk berdagang, termasuk perjalanan pergi haji. Tahun 1822 ia bersama sang ayah pergi ke Betawi menjumpai Gubernur Jendral Baron van der Capellen. Saat itu, ia sempat menonton “Komidi Holanda” di “Schouwbrurg” (sekarang Gedung Kesenian Jakarta). Tahun 1826, bersama sang ayah ia berniaga ke pulau Jawa dan sempat bertemu dengan Residen Jepara D.W. Punket van Haak. Sekitar tahun 1827, Raja Ali Haji bersama ayahnya menunaikan ibadah haji ke Mekah. Kemudian tinggal di sana selama setahun untuk memperluas pengetahuan agama. Di Mekah, ia sempat belajar beberapa bidang keislaman dan ilmu bahasa Arab pada Syeikh Daud bin Abdullah Al-Fatani.

Berbekal pengembaraan intelektual dan pengalaman yang telah dilaluinya, Raja Ali Haji tumbuh menjadi pemuda berwawasan luas. Meskipun usianya masih muda, ia sudah dikenal sebagai seorang ulama yang seringkali diminta fatwanya oleh pihak kerajaan. Pada tahun 1845, Raja Ali bin Raja Jafar diangkat menjadi Yang Dipertuan Muda Riau Ke-VIII, dan Raja Ali Haji dikukuhkan sebagai penasehat keagamaan negara. Pada tahun 1858, Yang Dipertuan Muda Riau ke-IX, Raja Abdullah Mursyid mangkat, maka Raja Ali Haji diberi amanat untuk mengambil alih segala urusan hukum yaitu semua urusan yang menyangkut jurisprudensi Islam. Meskipun ia memiliki posisi penting di pemerintahan Kerajaan Riau-Lingga, hal itu tak membuat produktivitasnya dalam menulis menjadi surut.

Begitu piawainya ia menulis dan merangkai kata-kata, sehingga hasil karyanya meliputi berbagai bidang bahasan, seperti keagamaan, kesusastraan Melayu, politik, sejarah, filsafat, dan juga hukum. Lewat karya-karya tersebut, Raja Ali Haji membuktikan dirinya tidak hanya sekadar sejarawan, tapi juga seorang ulama, pujangga, dan sastrawan yang memiliki komitmen memelihara nilai keislaman serta rasa tanggung jawab terhadap masyarakat. Ia dikenal sebagai pencatat pertama dasar-dasar tata bahasa Melayu lewat karyanya Pengetahuan Bahasa yang menjadi standar bahasa Melayu yang kemudian dalam Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928 ditetapkan sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia. Ia juga dikenal sebagai sejarawan lewat karya monumentalnya berjudul Tuhfat al-Nafis, dan sebagai sastrawan lewat karyanya Gurindam Duabelas.

Raja Ali Haji wafat pada tahun 1873 dan dimakamkan di Pulau Penyengat, tepatnya di kompleks pemakaman Engku Putri Raja Hamida. Untuk melestarikan karya-karyanya, pada awal tahun 1890, segenap sanak keluarganya mendirikan perkumpulan bernama Rusdyiah Club yang bergerak di bidang pembinaan umat serta penerbitan buku-buku Islami.

2. Pemikiran/Pengaruh

Sebagai sosok ulama dan kalangan elit kerajaan, pemikiran Raja Ali Haji lebih banyak berkisar pada upaya restorasi kerajaan dan tradisi Melayu pada masa itu. Pemikiran tersebut, sebagian besar tertuang dalam berbagai karyanya. Dalam Tuhfat al-Nafis, disebutkan bahwa suasana Melayu telah memasuki masa modern dan kolonialisme, dimana masyarakat Melayu tengah menghadapi perubahan-perubahan di bidang sosial dan budaya. Maka Raja Ali Haji tampil sebagai seorang askar kerajaan untuk menjaga keberlangsungan tradisi dan budaya Melayu. Pemikiran Raja Ali Haji dinyatakan melalui himbauan moral yang ditujukan kepada elit kerajaan yang berkuasa, agar melaksanakan kekuasaan mereka berdasarkan nilai dan norma islami.

Dalam Tsamarat al-Muhimmah, Raja Ali Haji juga menegaskan bahwa prasyarat untuk menjadi seorang raja dan elit kekuasaan, yaitu: harus beriman, cakap, adil, bijaksana, serta syarat-syarat lain yang menjadi kriteria konsep penguasa ideal. Baginya, kerajaan merupakan sistem politik yang tepat untuk membangun masyarakat Melayu. Oleh karena itu, kedudukan raja sangat penting dalam pembentukan kehidupan sosial-keagamaan kerajaan dan masyarakat. Bahkan pada salah satu pembahasannya, ia mengetengahkan kritik pedas terhadap perilaku politik raja-raja Melayu yang dinilai telah menyimpang dari nilai-nilai Islam. Dalam hal ini, ia menunjuk pada konflik politik antara Sultan Mahmud dan Raja Indra Bungsu, yang berujung pada terjadinya kerusuhan pada tahun 1787. Menurut Raja Ali Haji, kasus ini merupakan bukti bahwa ajaran Islam, khususnya pengendalian hawa nafsu, telah terabaikan dalam kehidupan politik raja-raja Melayu. Dalam pemikiran-pemikiran yang dilontarkan, Raja Ali Haji berusaha membangun kembali supremasi politik kerajaan Melayu sebagai satu bangunan sosial-politik bagi masyarakat Melayu.

Pemikiran Raja Ali Haji tersebut banyak berpengaruh pada masyarakat Melayu, khususnya para seniman dan budayawan di daerah Sumatera, Jawa, Malaysia, Singapura, Brunei, bahkan sampai ke Belanda.

3. Karya-karya

Sebagai sosok ulama, pujangga, sejarawan dan budayawan, Raja Ali Haji telah banyak melahirkan karya berupa naskah dan cetakan dalam huruf Arab, antara lain:

· Bustan al-Katibin Li al-Subyan al-Mutaallimin, Yayasan Kebudayaan Indera Sakti Pulau Penyengat, (tahun 1983)

· Kitab Pengetahuan Bahasa, diterbitkan oleh Al-Mathba at Al-Ahmadiyah/Al-Ahmadiah Press, Singapura (tahun 1345 AH).

· Syiar Hoekoem Nikah,

· Syair Siti Shianah Shahib al-Ulum wa al-Amanah, Yayasan Kebudayaan Indera Sakti Pulau Penyengat (tahun 1983).

· Gurindam Dua Belas dan terjemahannya dalam bahasa Belanda oleh E. Netscher De Twaalf Spreukgedichten, diterbitkan oleh Tijdschrift van het Bataviaasch Genootschap II, Batavia (tahun 1854).

· Muqaddimah Fi Intizam al-Wazaif al-Mulk, diterbitkan oleh Pejabat Kerajaan Lingga (tahun 1304 AH).

· Tsamarat al-Muhimmah, diterbitkan oleh Pejabat Kerajaan Lingga (tahun 1304 AH).

· Sinar Gemala Mestika Alam, diterbitkan oleh Mathba at Al-Riauwiyah, Pulau Penyengat (tahun 1313 AH).

· Silsilah Melayu dan Bugis, diterbitkan oleh Al-Imam, Singapura (tahun 1911).

· Suluh Pegawai, diterbitkan oleh Mathba at Al-Ahmadiah, Singapura (tahun 1342 AH).

· Siti Shianah, diterbitkan oleh Mahtha at Al-Ahmadiah/Al-Ahmadiah Press, Singapura (tahun 1923).

· Tuhfat Al-Nafis, diterjemahkan oleh R.O Winstedt dan diterbitkan oleh The Malayan Branch of Royal Asiatic Society, Singapura (tahun 1932).

· Syair Abdul Muluk, Singapura.

Selain karya-karya tersebut di atas, Raja Ali Haji juga memiliki karya yang dicetak dalam huruf Latin, antara lain:

· E. Netscher, De twaalf spreukgedichten; Een Maleisch gedicht door Radja Ali Hasji van Riouw, uitgegeven en van de vertaling en aanteekeningen voorzien, Tijdschbrift voor indische Taal-, Land-en Volkenkunde 2 : 11-32 (tahun 1854).

· Bustanu al-Katibin, diterjemahkan oleh H. Von de Wall, Boekbeoordeling door H von de Wall: Kitab Perkeboenan bagi kanak-kanak jang hendak menoentoet berladjar akan dija, Tjidschrift voor Indische Taal-, Landen Volekenkunde (tahun 1870).

· Tuhfat Al-Nafis, diterjemahkan oleh Encik Munir bin Ali, Malaysian Publication Ltd., Singapura (tahun 1965).

· The Precious Gift (Tuhfat al-Nafis), diterjemahkan oleh Virginia Matheson & Barbara Watson Andaya, Oxford University Press, Kuala Lumpur (tahun 1982).

· Tuhfat Al-Nafis: Raja Haji Ahmad dan Raja Ali Haji, diterjemahkan oleh Virginia Matheson, Fajar Bakti, Petaling Jaya (tahun 1982).

· Gurindam Dua Belas, dalam Abdul Hadi W.M., Sastra Sufi; Sebuah Antologi, Pustaka Firdaus, Jakarta (tahun 1985).

· Kitab Pengetahuan Bahasa, diterjemahkan oleh R. Hamzah Yunus, Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Pekanbaru (tahun 198-1987).

· Syair Abdul Muluk, Balai Poestaka, Batavia, (tanpa tahun).

· Syair Abdul Muluk, diterjemahkan oleh Siti Syamsiar, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Pekanbaru (tahun 1988-1989).

· Tuhfat al-Nafis, Virginia Matheson Hooker, Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pendidikan Malaysia, Kuala Lumpur (tahun 1991).

· Syair Suluh Pegawai, Al-Mathba ah al-Ahmadiyah/al-Ahmadiah Press, Singapura (17 Rabiul Awal 1342 AH/1923).

· Penyair dan Tuan Puteri, dalam Berkala Sastra Menyimak, terbitan ketiga 28 April – 28 Juli, Pekanbaru (tahun 1993).

4. Penghargaan

Raja Ali Haji dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional, atas karyanya Kitab Pedoman Bahasa yang ditetapkan sebagai Bahasa Nasional, Bahasa Indonesia, dari Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (10 November 2004).

---------------
Informasi lebih lanjut mengenai Raja Ali Haji silakan lawati website www.rajaalihaji.com


Ditulis oleh Wan Mohd. Shaghir Abdullah - Di Artikle Ulama Nusantara


Thursday, September 16, 2010

Raja Haji Abdullah - Yang Dipertuan Muda Riau Ke-9


Raja Haji Abdullah - Yang Dipertuan Muda Riau Ke-9


RAJA Haji Abdullah adalah putera Raja Ja'afar Yamtuan Muda Riau VI. Raja Haji Abdullah termasuk seorang ulama sufi, seorang mursyid dalam Thariqat Naqsyabandiyah al-Khalidiyah. Mula-mula beliau belajar kepada saudara sepupunya Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad. Setelah itu ke Mekah belajar kepada Syeikh Ismail bin Abdullah al-Minankabawi, Syeikh Syihabuddin bin Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari, Syeikh Ahmad al-Jabarti, Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani dan lain-lain.

Sewaktu beliau pulang ke Riau, dialah yang membawa Syeikh Syihabuddin al-Banjari dan Syeikh Ahmad al-Jabarti datang ke Riau untuk dijadikan guru. Kemudian setelah dia menetap di Riau, Syeikh Ismail Minangkabau datang ke Riau. Raja Haji Abdullah sungguh pun seorang raja, namun menyediakan dirinya sebagai khadam Syeikh Ismail al-Minankabawi, ulama besar yang sudah terkenal di Mekah itu.

Sewaktu Syeikh Ismail al-Minankabawi berangkat ke Singapura, dan mungkin ke mana saja Syeikh Ismail pergi, termasuk ke Kedah, Raja Haji Abullah ikut serta kerana mengharapkan limpah barakah pancaran ilmu sufi yang demikian tinggi yang ada pada peribadi Syeikh Ismail al-Minankabawi itu. Raja Haji Abdullah digelar juga dengan Haji Muda. Selain itu sebagai gelar tertinggi bagi penganut thariqat beliau disebut sebagai Marhum Mursyid. Gelar ini setelah baginda mangkat. Sebenarnya gelar itu memang sesuai untuknya kerana baginda adalah putera Riau yang diakui oleh gurunya Syeikh Ismail Minangkabau sebagai Khalifah Mursyid yang boleh mentawajjuh dan membai'ah para ikhwan Thariqat Naqsyabandiyah al-Khalidiyah itu, apabila Syeikh Ismail Minangkabau tidak berada di Riau.

Setelah saudaranya Raja Ali bin Raja Ja'afar mangkat, Raja Haji Abdullah menggantikan saudaranya sebagai Yamtuan Muda Riau-Lingga ke IX. Walaupun Raja Haji Abdullah sebagai penguasa tertinggi kerajaan Riau-Lingga, namun baginda tetap sebagai seorang tokoh ahli sufi yang melakukan ibadah dengan rutin sebagaimana disebut oleh Raja Ali Haji, ``Maka di dalam hal itu, maka ia pun duduk di dalam berbuat ibadat juga dengan segala sanak-sanak saudaranya serta menjalankan ibadat Thariqat Naqsyabandiyah itu. Maka tiadalah berhenti khatam dan tawajjuhnya pada tiap-tiap malam Selasa dan hari Jumaat serta menderas ilmu di balainya, iaitu Raja Haji Ali mengajar-ngajar serta membaca kitab-kitab akan segala sanak-sanak saudaranya serta pegawai-pegawai negeri. Ada pun kitab yang dibacanya itu kitab fikah: sah, batal, halal, haram ...''

Berambisi

Raja Haji Abdullah bukanlah seorang yang berambisi atau hubbud dun-ya atau hubbul jah, bahawa baginda berkehendak jadi Yamtuan Muda Riau-Lingga itu, tetapi adalah sebaliknya, pangkat yang disandangnya hanyalah berupa anugerah Allah jua adanya. Ini dapat dibuktikan daripada kata-katanya, ``Saya ini, apabila setahun di dalam pekerjaan raja ini, saya hendak berhenti, jika dikehendaki oleh goverment, adalah ganti saya anak saya Muhammad Yusuf.'' Perkataan tersebut seakan-akan sindiran bahawa seolah-olah baginda tahu daripada pandangan kasyaf, umurnya tidak akan berapa lama lagi, baginda akan meninggalkan dunia yang fana ini. Selanjutnya baginda mengatakan, ``Ada pun anak-anak sulbi saya tiadalah yang kebetulan kepada hati saya, yang saya hendak pindah ke Bentan, atau mana-mana tempat yang sunyi membuat ibadat.'' Adapun Raja Muhammad Yusuf di atas bukan puteranya tetapi adalah anak saudaranya. Puteranya ketika itu sedang belajar di Mekah namanya Raja Haji Muhammad atau digelar juga dengan Tengku Nong. Raja Haji Muhammad/Tengku Nong itu merupakan orang ketiga mengadakan konteks dengan alim-ulama di Mekah sesudah Raja Haji Ahmad bin Raja Haji dan Raja Haji Abdullah.

Raja Haji Abdullah Yamtuan Muda Riau ke IX jatuh sakit tumbuh bisul di belakangnya. Penyakit itu mengakibatkan ajalnya. Sebagaimana saudaranya Raja Ali ketika akan mangkat dulu sempat berwasiat dan wafat dalam kalimah zikrullah, maka Raja Haji Abdullah yang tinggi pengetahuan sufiyahnya tentu lebih daripada itu adanya. Baginda juga memanggil sanak saudaranya terutama Raja Ali Haji. Baginda juga sempat meninggalkan wasiat. Raja Ali Haji menulis, ``Maka hampirlah wafatnya, maka ia pun memanggil kekandanya Raja Ali Haji dekat-dekat dia, ia minta riba (pangku, pen:) kepalanya. Maka ia pun bercakap perlahan-lahan pada pekerjaan barzakh, iaitu ba'dal maut, serta beringat-ingatan ilmu, fatwa segala Masyaikh Ahli Thariqat...'' Kemudian ia pun minta tasbihnya diunjukkan isterinya sambil menangis, kemudian bertanya pula ia kepada Raja Ali, ``Pukul berapa ini?''.

Kata Raja Ali, ``Hampir pukul sebelas!''

Katanya, ``Uzurkah tuan hari ini? Tiada usahlah sembahyang Jumaat dahulu, ditinggalkan saja!''.

Jawab Raja Ali, ``Baiklah !''

Seketika lagi ia pun berkata, ``Sesak dada!''

Sekira-kira sampai pukul dua setengah istighfarlah ia di dalam zikir nafi itsbat zal Haq, zikir ismuz Zat. Seketika, rohnya pun berpindah dari negeri fana' ke negeri yang baqa'. Surat wasiatnya diserahkan kepada Raja Ali Haji sementara menunggu puteranya Raja Muhammad/Tengku Nong pulang dari Mekah. Ada pun wasiat itu tulisan tangan dengan huruf Melayu/ Jawi atas kertas lebar dengan khat indah sebagai yang berikut, ``Tarikh as-Sanah 1276, kepada 26 hari bulan Zulhijjah, hari Sabtu, bahawasanya kita Raja al-Haji Abdullah Yang Di Pertuan Muda membuat suatu surat wasiat ini bagi anak-anaknya. Dan pada ketika tarikh ini juga yang aku telah memberikan kepada anakku Maimunah, dan Puteri, dan Muhammad bin Abdullah dan Muhammad Thahir, daripada segala harta bendaku, yang aku tiada mempunyai sesuatu jua, tetapi selagi aku hidup ini seperti orang meminjam jua kepada anakku yang empat orang itu. Dan tiadalah boleh seseorang saudaranya mendakwakan dia adanya.

Fasal Yang Pertama: Adapun rumah dengan sampah sarapnya hak bagi Maimunah dan si Puteri. Adapun segala senjata besar-kecil hak bagi Muhammad. Syahdan dari kebun seperti Pulau Soreh pulang kepada Muhammad bin Abdullah. Dan perahu, sampan, jongkong mana-mana yang ada itu pulang kepada Muhammad bin Abdullah juga. Sebermula jika aku pulang ke rahmatullah Ta'ala, Muhammad bin Abdullah itulah jadi kuasa, dan memerintah, dan memeliharakan segala saudaranya tiada boleh anak-anakku yang lainnya, melainkan dia yang terlebih kuasa daripadanya.

Fasal Yang Kedua: Apabila sudah sampai ajalku, segala hutang aku Muhammad bin Abdullah membayarnya serta mufakat ia dengan ibunya Raja Hawi. Maka jika sudah sampai akil baligh Muhammad Thahir, jika tiada ibunya hendaklah ia mufakat dengan dia pada menyelesaikan hutang-hutang aku itu. Jikalau aku tiada terikhtiarkan yang demikian itu mufakatlah engkau kepada siapa yang menggantikan aku adanya.

Fasal Yang Ketiga: Mana-mana hutangku yang kena kepada pekerjaan kerajaan, maka iaitu Raja Mudalah yang membayarnya, seperti hutang perang atau kerana sesuatu yang lain yang hendak membaiki negeri dan belanja ``mashalihul muslimin''. Jika dengan sebab itu lazimlah Raja Muda itu membayarnya. Demikianlah adatnya selama-lamanya pusaka kita Upu Bugis.

Sathar

Fasal Yang Keempat: Jangan aku ditanam seperti raja-raja, tanamlah aku seperti menanam seorang fakir. Dan jangan aku dimandikan ramai-ramai. Taruh aku di dalam satu sathar dengan dua tiga orang yang saleh. Hawilah memandikan aku, dan janganlah aku diriba. Letakkan sahaja aku di atas suatu tempat yang suci atau di atas sarir yang terus airnya. Mandikanlah aku seperti barang yang telah disebutkan kaifiatnya di dalam kitab fikah. Dan lagi jangan engkau semua yang hidup sepeninggalan aku bersusah-susah belanja tajhiz aku. Jikalau hendak juga engkau semua mentahlilkan aku suruhlah tahlilkan dengan khalifah syeikh kita. Dan boleh engkau beri sedekah ala kadar kifayahnya. Dan jangan sekali-kali menyakit diri yang di luar syariat Rasulullah s.a.w. Hendak engkau semua turut akan jalan yang sebenarnya. Dan haji dan umrah semua selesai tiada lagi menyusahkan adanya. Adapun senjata besar kecil pulang kepada Muhammad Thahir semuanya.

Fasal Yang Kelima: Sesiapa yang menggantikan aku hendaklah engkau semua turut perintahnya. Dan jangan engkau dengki hasad kepadanya, tiada selamat. Dan engkau semua kerjakanlah dia dengan cuci putih hati kepadanya, inilah jalan orang yang baik-baik. Apa yang ada sampah sarap yang aku tinggalkan kepada kamu, jikalau Raja Muda itu berkehendak jangan sekali-kali ditahan adanya.

Fasal Yang Keenam: Engkau semua adik beradik jangan sekali menaruh hasad dan dengki sesama sendiri. Dan jangan bercerai engkau semua dari jalan mufakat dengan saudara-saudaramu yang lain seperti anak Marhum Abdur Rahman, dan anak marhum Raja Ali kerana adalah Marhum kedua itu saudara syaqiqah, yakni saudaraku seibu sebapa adanya.

Fasal Yang Ketujuh: Jangan engkau semua tiada mendengar nasihat ajaran ulama dan shulaha' jika engkau tiada kuasa menuntut kepadanya. Maka jika engkau kuasa menuntut, maka inilah yang sangat gemar dan tuntutku. Kerana tersebut di dalam hadis Nabi s.a.w. Ertinya: ``Menuntut ilmu fardu atas tiap-tiap Islam laki-laki dan Islam perempuan''. Tiada aku panjangkan pada fadilat menuntut ilmu itu melainkan jikalau Allah bukakan hatimu pada menuntut itu ialah yang sebaik-baik jalan dan nikmat yang tiada dapat dibagaikan fid dun-ya wal akhirah.

Fasal Yang Kelapan: Sayugianya engkau merendahkan diri kepada pangkat saudara tua atau pangkat bapa kepadamu. Hendaklah engkau ber''patik'' jikalau serupa gara sekalipun umpamanya. Dan engkau dengar juga akan nasihatnya dan segala ajarannya yang patut pada syarak dan adat.

Fasal Yang Kesembilan: Pesanku kepada kamu sekalian, hendaklah kamu memuliakan anak cucu Rasulullah s.a.w. apa lagi yang sudah jadi kaum kerabat kita; jangan sekali-kali hasad dengki akan dia, seperti abang ``Embong'' dan abang ``Syeikh Engku'' hendaklah engkau jadikan ia seperti saudaramu yang betul adanya.

Fasal yang kesepuluh: Jangan membangsat dan serta rapik pinta meminta kepada segala rakyat raja, inilah pesan datuk nenek moyangku, pantang yang tiada boleh dilalui juga, tiada selamat dunia akhirat kerana banyak daripada beberapa kebinasaan mendatangkan murka Allah Taala Yang Maha Besar.

Inilah wasiat yang aku tahshishkan kepada Muhammad Abdullah al-Khalidi. Bermula hendaklah kiranya engkau ingatkan baik-baik sepeninggal aku mati''.

Ditulis oleh Wan Mohd. Shaghir Abdullah - Di Artikle Ulama Nusantara